Harga Elpiji Naik, Pemerintah Tidak Konsisten

August 26, 2008

Per tanggal 25 Agustus 2008, harga eceran elpiji 12 kilogram naik Rp 6.000,00 per tabungnya. Harga resmi pemerintah yang sebelumnya berada pada level Rp 63.000,00 berubah naik menjadi Rp 69.000,00. Hal ini berdampak pula pada harga di tingkat pengecer yang menjadi ujung tombak penjualan gas elpiji kepada masyarakat. Dari semula harga berada pada kisaran Rp 65.000,00 naik menjadi Rp 75.000,00.

Hal ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi energi bagi masyarakat. Sejak tahun lalu, pemerintah memang gencar menginginkan pengurangan subsidi yang biasa dinikmati warganya. Program pertama pemerintah berkaitan pengurangan subsidi adalah konversi minyak tanah menjadi gas elpiji. Untuk itu pemerintah memdistribusikan secara gratis kompor gas dan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram untuk digunakan oleh masyarakat kecil sebagai insentif dari program konversi ini.

Namun, program-program pemerintah ini pun bukan tanpa masalah. Seiring dengan proses konversi ini, tabung-tabung gas 3 kilogram pun sempat langka di pasaran, kalaupun ada harganya mahal dan jauh dari harga patokan pemerintah.

Saat ini, harga elpiji ukuran 3 kilogram berada pada kisaran Rp 15.000,00 di tingkat pengecer. Harga ini kontan membuat pasokan elpiji 3 kilogram terancam hilang dan langka di pasaran mengingat kenaikan harga elpiji 12 kilogram yang baru saja dilaksanakan pemerintah. Hitungan kasar, harga gas elpiji ukuran 3 kilogram apabila dibeli sebanyak 4 tabung (menjadi 12 kilogram), totalnya hanya Rp 60.000,00.

Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan dan para pedagang makanan yang biasanya membeli gas elpiji 12 kilogram tentu hal ini akan berdampak cukup signifikan pada perekonomian mereka. Selisih harga Rp 15.000,00 bukan nilai yang sedikit, cukup untuk membeli satu tabung lagi gas elpiji ukuran 3 kilogram. Itung-itung memperpanjang napas, lah..

Tapi dampak yang dihasilkan tidak hanya berhenti di situ. Dampak langsung dan nyata terlihat adalah terancamnya keberlangsungan elpiji 3 kilogram di pasaran.

Dengan beramai-ramai pindah ke elpiji 3 kilogram, tidak ada yang bisa menjamin, Pertamina dan pemerintah akan merespon dengan cepat untuk mengamankan keberadaan gas elpiji 3 kilogram. Seperti kita tahu, pemerintah dan Pertamina biasanya hanya bisa tutup mata dan tutup telinga terhadap gejolak sosial yang berlangsung di masyarakat.

Paling-paling pemerintah hanya akan mengeluarkan statement “Pemerintah berjanji akan mengupayakan agar pasokan gas aman dan terkendali dengan berkoordinasi bersama dengan Pertamina, sehingga masyarakat tidak perlu merasa cemas.” Janji yang memang pasti akan terpenuhi karena yang dijanjikan adalah pengupayaan, bukan kenyataan dan berupa bukti. Jadi, pemerintah tidak salah donk mengeluarkan pernyataannya. Entah benar-benar yang terjadi adalah amannya stok gas elpiji atau malah hilang sama sekali, yang terpenting adalah upayanya. Pemerintah yang pandai dan cerdik berpuitis, yah…???

Lalu dampak yang tidak langsung terlihat adalah melemahnya daya produksi masyarakat. Dapat dibayangkan apabila gas elpiji 12 kilogram yang biasa dipakai oleh keluarga yang beranggotakan 4 orang (sesuai dengan program KB yang diusung pemerintah) habis dalam waktu 1 bulan, maka dengan menggunakan gas berukuran 3 kilogram, keluarga tersebut akan mengisi ulang setiap 1 minggu sekali. Waktu yang terbuang percuma apabila kita berkaca pada pepatah, time is money, dude…..

Hanya berandai-andai, siapa tahu pada saat suami sedang berada di kantor menyelesaikan pekerjaannya, dari rumah, sang istri menelepon dan memberitahukan bahwa gas habis. Maka dengan pontang-panting, sang suami pulang ke rumah untuk mengisi ulang gas elpijinya. Belum lagi kesialan menimpa dirinya, gas di pangkalan sedang sepi, tidak ada sama sekali gas tersedia akibat melonjaknya permintaan. Terpaksa deh itu suami harus nunggu antri di pangkalan gas bersama para tetangganya.

Lalu mereka ngalor-ngidul ngobrol tentang payahnya pemerintah negeri ini memanajemen hal-hal yang sangat vital bagi rakyatnya. Bahkan mereka sampai membuka borok di tubuh pemerintah sambil ngobrolin topik lain yang sedang hangat yaitu tentang megakasus BLBI dari A sampai Z yang tidak akan pernah sampai tuntas dibereskan para petinggi negeri ini.

Satu yang pasti sang suami tersebut pastilah bukan seorang menteri dari kabinet apapun, bukan seorang dirjen dari departemen manapun, bukan seorang kepala dinas dari divisi kapanpun (lho, koq???)….

Tanya kenapa???

Bukan karena mereka banyak dhuit yang bukan hasil keringat mereka sendiri, bukaannn…..

Bukan juga karena mereka suami-suami yang berani terhadap istri (kayak komedi di TransTV ajah, boss…), bukannn…

Tapi alasan pastinya adalah karena mereka pasti tidak akan menghujat para bosnya yang selalu setia melindungi dan mengayomi para bawahannya yang bekerja tidak maksimal dan penuh dengan borok serta tuduhan miring… Lho, hubungannya apa???

Ya, itu tadi… (makanya, perhatikan donk ceritanya….) Kan tadi dibilang, suami tersebut pulang ke rumah untuk mengisi ulang gas di rumahnya.. Pasti seijin bosnya, donk.. Klo ga’, gajinya bisa disunat… kayak “apaan” aja…hehehe…. Nah, klo dah gini, pasti kerjaannya ga akan beres-beres donk, ya ga???? Kerjaan ga beres-beres tapi gaji lancaaarrrr trussss…… Sama kayak “ehm” (tau donk….) Salah satunya triak-triak mau mengkaji ulang kontrak dengan asing tapi sampai detik ini (28-08-08 pukul 5:18:32), belom diitung juga harga yang mau ditawarkan tuh berapa… cepek, dechhhh…. Klo begini mah, udah keburu kadaluwarsa jabatannya… hehehe….

Trus, tuduhan miring apaan??? Ohhh… ampir lupa…. Ya, gitu… pasti sang suami bukan anak buah bos-bos yang melindungi mereka dari kejaran KPK (Komite Pengajaran Kelakuan) terkait dengan kasus-kasus yang melibatkannya… Ya, eyalah…. Mau diajarin cara berlaku yang sopan dan baik sama KPK, malah dilindungi dan dibilang udah sopan dan pinter…. Ayo, siapa itu…..??? Klo udah gini, ga mungkin kan suami tersebut adalah anak buah bos-bos itu… Mana tahan ngegosipin bos sendiri yang udah baik buanggettt…..

Oke dech sampe di sini dulu ceritanya… Udah sore, boss mau mandi dulu… trus belajar, biar jadi orang pinter yang ga minter-minterin orang….

Ciao….

NB: Koq jadi panjang n keluar jalur gini, yah??? omongan juga jadi ga resmi… Aduchh…. sori boss, ga sengaja… mohon maaf buat semua yang terlibat di sini, baik itu pembaca, pendengar, maupun para artis dan aktor yang namanya tidak boleh disebut (Lord Voldemort, kaleee…..) Semuanya ini adalah demi terlaksananya kehilafan saya dalam mengetik… hehehe….. oya, klo baca tulisan ini, jangan lupa ada * ……

* Syarat dan Ketentuan Berlaku

Syarat :

ga boleh tersinggung dan tersungging

ga boleh merasa tersindir

ga boleh marah

Ketentuan :

Bebas dari segala tindakan hukum

Kasih comment donk di sini

atau buka juga cerita-cerita yang lain di sini

klo ga bisa di klik, buka primamanik.wordpress.com

n’

Bayar biaya internetnya sendiri-sendiri, yach….

Entry Filed under: portal kritik. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

1 Comment Add your own

  • 1. ROBIN  |  August 27, 2008 at 11:32 pm

    Emang DASAR GILA TUh pemerintah…, Gk tw diri bgt…!! Jaman udah susah dan byk orang miskin. tp pemerintah tetep aj gk perduli dan sok belaga budek kupingnya tuh semuanya..!! skrg solusi dari pemerintah ap skrg?? gk ad kn?

    Orang d-suruh ke gas, eh.. skrg orang dh pd ke gas pemerintah se-enaknya aj naikkan gas. APA KATA DUNIA…!!

    MALU DONK PEMERINTAH, JANGAN BISA-NYA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI

    Reply

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Top Posts

Recent Comments

CSnya neh...… on TELKOMSEL FLASH Menuai Ma…
ria on TELKOMSEL FLASH Menuai Ma…
anon on TELKOMSEL FLASH Menuai Ma…
rudi on TELKOMSEL FLASH Menuai Ma…
primamanik on TELKOMSEL FLASH Menuai Ma…

Pages