Nasionalisasi Perusahaan Asing di Indonesia
August 20, 2008 at 8:45 am 2 comments
Dalam era globalisasi dewasa ini, kepemilikan dan keberadaan perusahaan asing di dalam negeri sudah merupakan hal yang lumrah. Indonesia sendiri mencatat banyak sekali perusahaan bukan milik bangsa ini yang beroperasi dan mengeruk kekayaan bangsa ini demi bukan kepentingan seluruh bangsa Indonesia. Beberapa perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia antara lain Freeport dan ExxonMobil. Bahkan di luar itu, ada juga perusahaan Indonesia yang sekarang sudah berganti kepemilikan menjadi perusahaan milik asing, seperti Indosat dan Telkomsel.
Tentu apabila perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi dengan sewajarnya dan menjunjung tinggi moral, pasti akan memperhatikan kesejahteraan rakyat ‘tuan rumah’, bukan hanya ingin mengeruk keuntungan saja dari negara tempat mereka ‘berparasit’.
Di sisi lain, pemerintah negara yang ditinggali pun , khususnya Indonesia, seharusnya dengan serius dan penuh perhatian mengontrol operasi perusahaan tersebut, sehingga amanat dari UUD 1945 pasal 33 dapat tercapai untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.
Namun, untuk Indonesia khususnya, harapan tinggal harapan. Belum ada satu pun pemimpin republik ini yang mau serius memperjuangkan kesejahteraan bangsa dan rakyatnya.
Dari sekian banyak pemimpin negara yang ada di dunia, hanya segelintir saja yang memiliki tekad dan keberanian yang kuat untuk menasionalisasi kembali aset-aset yang ada di negaranya. Satu nama yang cukup masyur adalah Presiden Venezuela, Hugo Chavez.
Berikut ini adalah langkah-langkah konkret yang diambil oleh Presiden Venezuela, Hugo Chavez, dikutip dari detikfinance.com :
3 Februari 2007: Pemerintah membeli mayoritas perusahaan telepon CANTV yang sebelumnya dimiliki Verizon dari AS. 8 Februari 2007: Pemerintah membeli mayoritas saham pembangkit listrik Electricidad de Caracas, juga dari perusahaan AS, AES.
13 Februari 2007: BUMN perminyakan PDVSA membeli pembangkit listrik Electrica Seneca dari perusahaan AS, CMS Energy.
1 Mei 2007: Pemerintah Chavez mengumumkan program nasionalisasi ladang minyak Orinoco Belt, yang dioperasikan oleh 13 perusahaan asing. Mayoritas perusahaan asing mau menjual hak operasinya, sementara ExxonMobil dan ConocoPhillips menolak dan menggugatnya ke arbitrase internasional.
3 April 2008: Chavez mengumumkan akan menasionalisasi industri semen, dan memberi batas waktu kepada perusahaan-perusahaan semen asing yang beroperasi di Venezuela untuk segera menyerahkan 90% sahamnya.
12 Mei 2008: Pemerintah mengeluarkan UU untuk bisa mengambil alih operasional perusahaan besi dan baja, Orinoco Ternium-Sidor. Pemerintah kini sedang bernegosiasi untuk membeli mayoritas saham perusahaan besi dan baja Amazon Consortium.
31 Juli 2008: Chavez mengumumkan untuk membeli Banco de Venezuela, yang sebelumnya dikuasai oleh bank dari Spanyol Santander.
18 Agustus 2008: Venezuela berhasil menguasai anak usaha Lafarge dan Holcim, namun gagal mencapai kesepakatan untuk mengambil anak usaha Cemex dan memutuskan untuk membekukannya.
Kapan pemerintah Indonesia mau dengan jujur memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya ?
Kapan pemerintah Indonesia mau bertindak arif, jujur, berani, dan pantang disanjung untuk membela kepentingan rakyatnya?
Jawabnya…
Kapan-kapan…..deh……..
Entry filed under: portal kritik. Tags: ExxonMobil, Freeport, Hugo Chavez, Indonesia, Indosat, pasal 33, pemerintah, perusahaan asing, presiden, rakyat, Telkomsel, UUD 1945, Venezuela.
1.
siti | September 10, 2008 at 10:01 pm
ya gitu deh,kapan ya orang indonesia bisa bangkit!!!kapan pemimpin bangsa ini bisa tegas ya…………..ya semoga aja allah membukakan pintu tuk bangsa kita…amin
2.
Anonymous | September 28, 2011 at 1:15 am
artikelnya bagus bang! sebagai penerus bangsa ini, kita harus berkoar-koar sampai titik darah penghabisan untuk menumpas penjajahan versi modern..